Halmahera Barat Pamer Pesona di Festival Teluk Jailolo 2013

Ga ada yang ragu sama kekayaan alam dan budaya Indonesia. Salah satu lumbung destinasi wisata negara kita ada di bagian timur, khususnya di Maluku Utara, spesialnya di Kabupaten Halmahera Barat. Nah, saya berkesempatan hadir di sebuah event yang memamerkan hal tadi, Festival Teluk Jailolo (FTJ) 2013. Di gelaran kelimanya ini, FTJ bikin banyak acara keren. Saking banyaknya, saya ga sempat hadir dan liput semua, padahal selama empat hari disana, dari pagi sampai malam aktivitas saya hampir ga ada jeda.


Saya datang ke Jailolo tanggal 16 pagi, setelah menempuh perjalanan udara ke Ternate dulu dari Jakarta selama empat jam. Dari Ternate, naik speed boat 45 menit ke teluk jailolo di pulau halmahera, kabupaten Halmahera Barat. Tiap tahap perjalanan benar-benar bisa dinikmati. Kalau kamu beruntung duduk di kolom kiri pesawat, tepat di dekat jendela, jangan lewatkan visualisasi gunung gamalama yang megah. Pas pesawat nukik turun, danau tolire jelas keliatan dari atas, ada dua lagi danaunya. Keren banget. Pas roda pesawat gilas runway, di kanan jalan laut, di kiri gunung. Lanjut di speed boat menuju Jailolo, kita bisa lihat pulau-pulau di laut utara Maluku. Ternate, Tidore, Maitara, jelas terlihat berjejer. Tidore sama Maitara itu dua pulau berdampingan yang digambar di uang lembar seribuan.


Nyampe di daratan Jailolo, acara udah rame, meskipun FTJ belum dibuka. Saya menemui tuan rumah dulu, bupati Halbar Pak Namto Hui Roba. Beliau orangnya supel, humoris juga. Mau ngomong pake bahasa jawa bisa, istrinya orang Jogja. Mau ngomong bahasa sunda boleh, beliau pernah kuliah di Bogor. Hobi bupati satu ini nyelam. Bukan nyelam sih. Beliau ngaku hobinya jadi bupati, profesi aslinya geolog. Saking sukanya Pak Namto sama selam, titik-titik selam di Halmahera Barat diberi kode nama NHR, singkatan nama bupati yang sekaligus menemukan titik-titik tadi. Ditanya apa menariknya dunia selam, menurutnya kalau menyelam itu ibarat kita lihat lukisan yang panjangnya berkilo-kilometer. Bikin ngiri pengen nyelam juga ya?


Dari rumah bupati, saya dan tim langsung liput pembukaan festival. Yang paling menarik di pembukaan ini, penampilan kelompok musik tali dua. Musiknya kayak keroncong gitu, tapi kontra bassnya unik. Senarnya cuma dua dan bukan dipetik, tapi dipukul pake kayu.



Sorenya, kami ke Desa Gamtala. Disana ada upacara adat Horom Sasadu. Upacara adat makan di rumah adat yang namanya sasadu. Sekitar jam 11 malam saya pulang ke penginapan. Acara sebenarnya belum selesai, karena berlangsung semalam suntuk.


Selama di Jailolo, emang paling enak itu tinggal di homestay, alih-alih hotel. Di hotel bayar 250 ribuan dapet tidur doang. Di homestay atau numpang di rumah warga, 100 ribu bisa dapet juga ngobrol-ngobrol sama orang sana. Selain itu, di Jailolo juga ada alat transportasi unik, bentor namanya. Bentor ini sebenarnya motor, tapi dimodifikasi jadi becak. Bukan becak sembarang becak. Bentor ini biasanya dilengkapi sound system. Jadi kalau jalan, musik house mix koplo itu justru bumbu yang bikin naik bentor jadi makin berkesan. Di Jailolo, orang-orang juga suka nari poco-poco. Saya aja kebawa suka nari, enak banget nari pake musik sana, meskipun jogetnya ngasal. Hahahaha


Hari kedua kami memburu sunrise di bukit senyum lima ribu. Sayangnya tempat itu ternyata menghadap barat, jadi kami salah alamat, matahari malah terbit dari balik bukit di belakang sana. Haha. Dari bukit itu, perjalanan berlanjut ke Pulau Buabua, saya snorkling disana. Siangnya, setelah jumatan yang kalau disana dimulai jam 1 siang waktu setempat, kami liput persiapan drama musikal Sasado On The Sea. Tadinya sore itu mau jalan-jalan ke hutan bakau, tapi ga jadi. diganti ke pantai galau. Malamnya, lihat gladiresik Sasado On The Sea.


Hari Sabtu, kami mulai dengan ikut parade gerobak sapi. Disini celana saya kena kotoran sapi. Padahal itu celana panjang satu-satunya yang dibawa. Celana satu lagi sobek di bagian selangkangan pas mau naik mobil. Hahahaha. Setelah gerobak sapi, kami mampir ke pesta kuliner. Disana ga bisa lama soalnya ditunggu wartawan lain buat jalan-jalan ke hutan bakau. Hutan bakau ini lokasinya di Desa Wisata Gamtala, desa yang juga jadi tuan rumah ritual horom sasadu. Tempatnya keren banget, airnya jernih dan hangat karena pengaruh gunung tugu aer. Dekat ke muara, air jadi dingin, dan di ujung perjalanan kami tiba di delta lako akelamo. Sebuah delta atau endapan sungai di muara yang ga tiap waktu ada. Iya, kalau musim angin barat tanah itu jadi laut semua. Wartawan lain lanjut renang ke pantai susupu, tim saya balik ke Jailolo, ada janji wawancara narsum soalnya. Katanya sih pantai susupu keren banget. Mereka sampe renang-renang disana, ada yang kena sunburn juga.


Malam minggu, puncak festival jailolo digelar di panggung utama yang diatas laut itu. Ada dua pertunjukan utama, sasado on the sea dan konser band Noah. Dua-duanya keren, terutama yang pertama sih, epik banget, dalem. Penutupan itu pun berakhir sekitar jam 2 dini hari.


Minggu pagi, rencananya saya mau liput danau tolire yang sejak kunjungan pertama ke ternate belum sempat diliput juga. Tapi rupanya kami belum jodoh. Suatu hari saya harus balik lagi kesana. Maluku Utara rasanya udah jadi rumah kedua. Nyaman ditempati, dan orang-orangnya ramah. Sampai jumpa lagi nanti, Moloku Kie Raha.


* Foto karya Vitalis Yogi Trisna berlabel Kompas Images dipinjam dari kompas.com 
** Foto saya berpose sendirian dijepret Narendra Wisnu

Labels: ,