Pameran Seni di Frankfurt

Seiring dengan kehadiran Indonesia sebagai tamu kehormatan dalam gelaran pameran buku terbesar di dunia Frankfurter Buchmesse, digelar pula serangkaian acara yang juga bertema Indonesia. Salah satunya di sebuah galeri di area Romerberg kota Frankfurt. Nama galerinya Frankfurter Kunstverein. Di dalam tempat pameran seni kontemporer ini, empat seniman atau kelompok seniman Indonesia unjuk karya. Mereka adalah Joko Avianto, Jompet Kuswidananto, Eko Nugroho dan kelompok Tromarama (perupa dari Bandung yang terdiri atas Febie Babyrose, Herbert Hans, dan Ruddy Hatumena).


Saya berkesempatan mengunjungi langsung pameran tersebut dan menyaksikan betapa karya seni buatan anak bangsa jadi magnet tersendiri bagi penikmat seni di benua biru itu.


Pohon Besar. Instalasi buatan Joko Avianto yang tersusun dari beton dan 1500an batang bambu. Dikerjakan selama tiga minggu, pohon artifisial ini adalah kritik terhadap pengurangan pepohonan yang jadi pertanda perubahan alam. Saya sempat kesulitan menemukan lokasi pameran ini, karena keluar dari stasiun kereta yang salah. Hehe. Jika Anda keluar dari pintu yang tepat, maka pohon besar inilah yang menyambut Anda di sisi kanan.


Di bagian dalam galeri yang juga menempel dengan sebuah restoran, pameran lain ditampilkan. Sebenarnya bukan cuma karya perupa Indonesia yang juga dipamerkan. Tapi saya fokus ke karya-karya negara kita. Instalasi ini buatan Jompet. Sepatu, stang sepeda motor, kaos partai dirangkai hingga membentuk imaji massa pendukung sebuah partai politik. Menurut rilis pers yang disebar panitia, karya bertajuk "Power Unit" ini merupakan refleksi kritis Jompet terhadap perubahan kondisi sosial-politik sejak jatuhnya rezim orde baru.


Seorang pengunjung memotret karya 


Tromarama tampil impresif dengan handuk yang disusun menjadi sebuah video stop motion. Judulnya Break A Leg. Sebanyak 230 kain bersulam disusun hingga menampilkan seseorang yang berlari tanpa henti. Menggunakan media handuk merk Good Morning yang diproduksi massal, karya ini menjadi wujud keprihatinan kelompok seniman itu terhadap industrialisasi yang mengukur segala hal dari nilai ekonomi.


Galeri bertingkat-tingkat. Tiap lantai menampilkan karya seniman berbeda


Ada sebuah ruangan yang di dalamnya orang-orang mendengar sebuah paparan. Saya nggak ngerti apa yang mereka bicarakan, Skip. Haha



Eko Nugroho menampilkan tiga karya. Salah satunya mural ini, yang mendefinisikan demokrasi.


Karya lain Eko Nugroho. Semua karya tersebut akan dipamerkan hingga tanggal 10 Januari 2016

Labels: , , ,