Sang Festival Buku Terbesar di Dunia: Frankfurt Book Fair 2015

Pertengahan Oktober lalu, saya beruntung mengunjungi Jerman lagi. Beberapa bulan sebelumnya saya sempat ke sana juga, mengunjungi kota Leipzig dan Berlin. Kali ini, saya ke Frankfurt dan Heidelberg. Misi utamanya ada di kota yang saya sebut pertama, meliput festival buku terbesar sejagat raya: Pekan Raya Buku Frankfurt atau Frankfurt Book Fair.


Pekan Raya Buku kali ini spesial karena Indonesia menjadi tamu kehormatan. Apa saja keuntungan gelar tersebut? Saya sudah menuliskannya untuk dimuat di koran Media Indonesia hari Minggu besok. Atau kamu bisa baca di blog Can I Say Magazine nanti.


Nah ternyata, dengan menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair, Indonesia punya masalah dan misi tersendiri untuk meningkatkan minat baca di tanah air. Memangnya apa kaitan jadi tamu kehormatan dengan peningkatan minat baca? Pertanyaan itu akan terjawab jika kamu menonton program dokumenter 360 malam ini. Lalu apa yang akan saya ceritakan di blog ini? Ya, hal-hal yang tidak saya kisahkan di dua media tadi. Hehe. Simak foto-foto berikut ini:


Walter Spies adalah pelukis mooi indie yang memperkenalkan Bali melalui lukisannya. Untuk melihat buku berisi biografi dan karya-karyanya, kita harus memakai sarung tangan
Benny (paling kanan) dan Mice (paling kiri) pernah dikenal sebagai duet komikus yang karyanya laku keras. Belakangan mereka berpisah karena meletus sebuah konflik, keduanya berpisah dan jadi nggak akur. Nah di panggung gerai nasional FBF inilah keduanya dipersatukan kembali. Setelah 5 tahun nggak ketemuan.


Salah satu gerai yang menjual CD musik. Nama record labelnya Trikont. Saya beli album kompilasi mereka yang volume 5. Dengan harga 5 euro, saya bisa dapat album berisi 2 CD itu. Baru CD 1 yang saya dengar, dan saya merasa tidak menemukan lagu yang benar-benar saya suka. Yah namanya juga baru kenalan sama musik Jerman ala Trikont, belum akrab. Kalau ada produk musik yang berkaitan dengan Atari Teenage Riot tadinya mau saya beli. Kalo Halloween saya cuma suka satu lagu. Hehe. Baru dua itu sih musik dan musisi Jerman yang sejauh ini baru saya kenal. Waktu di Berlin, saya lihat anak-anak punk di sana nyetel musik ATR dengan loud speaker yang diset kenceng. Mereka juga cuek joget sekenanya di depan stasiun kereta.


Ini lorong tempat penjualan buku antik. Untuk mengamati buku-buku ini, tas pengunjung harus diperiksa sebelum dan setelah memasukinnya. Khawatir ada yang nyolong


Ini gerai penjual sebuah "majalah musik sayap kiri" (demikian si penjual mendeskripsikan produknya). Saya tertarik dengan dua edisi yang membahas tentang "psikologi musik pop" dan "hubungan kolonialisme dengan musik". Sayangnya dua edisi itu ditulis dalam bahasa jerman. Meski sudah jelas saya belum ngerti bahasa itu, tapi tetap saya beli. Selain karena itu tadi, topiknya menarik, per majalah dijual hanya satu euro. Hehe. "Bungkus dua bang!" kurang lebih begitulah saya bilang ke abangnya :D


Ini adalah suasana satu jam terakhir pelaksanaan Frankfurt Book Fair. Acara itu sebenarnya ajang buat jual beli hak cetak buku dari suatu penerbit di satu negara, agak si buku bisa dijual di negara lain dalam bahasa sendiri. Buku-buku yang dipajang kebanyakan tidak dijual. Tapi begitu menjelang ditutup, beberapa dijual juga.


Kakek dan nenek ini setia menyelesaikan tayangan yang mereka tonton di gerai penerbit  China.


Saking banyaknya buku yang dibawa dari negara mereka, dan males juga kalo dibawa lagi ke sana, beberapa buku dijual atau bahkan digratiskan. Di gerai Vietnam cukup banyak yang digratiskan. Di gerai Indonesia, sebagian kecil saja yang digratiskan. Saya kebagian novel Mereka Bilang Saya Monyet dan sebuah novel tentang Papua berbahasa Inggris.
Dengan menjadi tamu kehormatan, Indonesia berhak menempati ruang pameran seluas 2500 meter persegi ini. Nama tempatnya paviliun Indonesia. Begitu festival usai, sejumlah dekorasi indah yang banyakdipuji pengunjung itu, disimpan di kedutaan besar Indonesia di sana dan beberapa tempat lain. Lain halnya dengan panggung ini, bagian dari area bernama Island of Scene. Bagian pembentuk panggung ini tidak bisa digunakan ulang sehingga ya dibuang saja.


Pak Goenawan Mohamad sang ketua delegasi didampingi Pak Thamrin sang arsitek paviliun Indonesia juga ditemani Mbak Kesti koordinator Island of Spices berfoto bersama wartawan usai acara berakhir.

Labels: , , , ,