Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz: Tiba di Sugapa


Rombongan tiba di bandara Bilogai Intan Jaya. Foto ini dipotret Brian Hendro dari Media Indonesia


Para wartawan peserta ekspedisi carstensz akhirnya berangkat ke Distrik Sugapa di Kabupaten Intan Jaya Papua. Tapi tunggu dulu, bukan berarti perjalanan ini mulus begitu saja. Dijanjikan berada di bandara jam 5.30 pagi, kami tepat waktu. Yang tidak ontime adalah jadwal penerbangannya. Tiga setengah jam kemudian, barulah kami berangkat. Itu pun tidak semua. Dari dua pesawat yang seharusnya berangkat, cuma satu yang akhirnya bisa digunakan karena kerusakan mesin pesawat. Alhasil, bekal makanan yang seharusnya diangkut satu pesawat yang ditinggal, tidak bisa dibawa. “Selamat datang di Papua”, demikian orang-orang di bandara ketika itu menghibur diri.


Puncak Carstensz mencuat di antara puncak-puncak lain. Foto ini dipotret Brian Hendro dari Media Indonesia

Gunung berupa bebatuan yang membelah rimba belantara Papua
Perjalanan 40 menit kami lalui dengan memotong barisan pegunungan tengah Papua. Setelah hutan lebat yang pekat dengan pepohonan, batu cadas raksasa melintang, menjadi batas ke rerimbunan lainnya. Setelahnya, seisi pesawat riuh bersorak. Dari bagian kanan pesawat tampak di kejauhan si anggun puncak Carstensz yang akan kami daki. Di kiri kanannya terlihat pula gundukan salju yang seperti menyelimuti. Kami akhirnya tiba di bandara Bilogai Intan Jaya.


Suasana ketika kami menunggu keberangkatan pesawat
Belasan mama-mama (yang diantaranya menggendong anak) turun ke landas pacu. Maximus Tipagau, pemandu pendakian kami, menghampiri mereka. Spontan, Maximus memegangi pipi sang mama. “Ini cara salaman orang moni”, katanya singkat. Mama-mama itu adalah warga Distrik Ugimba, distrik terakhir sebelum melalui lintasan pendakian yang tanpa manusia. Menurut Maximus, mereka akan menjemput kami dan menjadi porter. Tahukah kamu, berapa harga sewa seorang porter di Intan Jaya? Tujuh juta rupiah. Ya, itu harga satu paket pendakian. Maksud saya satu paket bukan hanya ketika kita naik dan turun gunung, tapi juga lengkap dengan paket pribadi si porter. Seorang pendaki asal Inggris yang saya wawancara, mengaku porternya diekori sang anak. Iya, dia membawa anak bayinya ke puncak gunung yang dingin itu. Tapi jangan salah. Mereka ini kuat, bahkan Afif wartawan detik.com menuliskan mereka sebagai porter terkuat se-Indonesia. Tentu saja termahal se-Indonesia juga. Hehehehe.


Di depan rumah tinggal kami, ada gundukan tanah tinggi. Nyaman sekali beristirahat di sini, tentu ketika matahari tidak sedang ganas-ganasnya. Foto ini dipotret Brian Hendro dari Media Indonesia
Selama di Sugapa, kami tinggal di sebuah rumah kayu milik Maximus. Menuju ke sana dari bandara, kami naik ojek. Ongkos ojeknya berapa? Ratusan ribu rupiah. Ya, segala hal memang mahal di daerah yang satu-satunya akses ke dunia luar cuma lewat bandara. Harga satu liter bensin saja 50.000 rupiah. Tapi dengan harga semelambung itu, jangan bayangkan mereka sejahtera. Angka indeks pembangunan manusia Intan Jaya tergolong rendah. Fasilitas umum tidak memadai. Kita masih punya banyak hutang buat Intan Jaya, buat Papua. 

Tidak lama beristirahat di rumah Maximus, kami langsung diajak pendiri Adventure Carstensz itu berjalan-jalan keliling Sugapa. []


Adik kecil dengan tawa cerianya yang khas. Kalau ditanya, dia cuma mengangkat dagunya, dengan senyum seperti di atas.


Anak ini nggak sungkan jalan-jalan di ruang tunggu bandara mozes kilangin, deketin orang asing dan nempel-nempel. Buku yg lagi saya baca itu dibawanya pula, sempat berpindah tangan ke anak lain. Udah lah saya pikir ilang itu barang ga mungkin balik. Eh ternyata ditinggalin gitu aja di kursi lain. Yaudah diambil lagi dibaca sampe tamat. Intisari edisi khusus HUT Ke-70 RI sebenarnya gak terlalu spesial. Masa soekarno lagi yang dibahas? Tapi mungkin memang pangsa pasar mereka di kalangan soekarnois. Saya sendiri sempet agak nyesel belinya. Tapi ternyata gak semengecewakan itu. 70 kisah soekarno di dalamnya cukup mencerahkan. Mengingatkan ulang lah. Terus ane lagi asik-asik makan mie, eh anak ini liatin. Pas ane tawarin dia maunya semua. Hehe. Yaudah

Labels: , , , ,