Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz: Solusi Dari Menteri

Sementara tim marinir sudah sampai di Temabagapura, kami masih di Timika. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, perizinan untuk melintasi kawasan tambang itu belum juga rilis. Kendala itu kemudian akan dikonsultasikan ke dua menteri yang datang langsung dari ibu kota untuk sejumlah misi. Hari itu, tim wartawan bertolak ke desa iwaka di distrik Timika Timur. 

Suasana sebelum kedatangan menteri

Desa iwaka merupakan kampung halaman para perajin suku kamoro. Menko maritime dan menpar datang ke sana untuk melihat langsung kondisi suku kamoro dan ukirannya, serta memberikan salinan piagam penghargaan dari UNESCO tentang noken yang dianugerahi gelar warisan budaya dunia. Sebelum memberikan piagam itu di tempat berbeda, kedua menteri mendengar langsung aspirasi warga kamoro yang menginginkan di daerahnya dibangun museum budaya papua. Mereka menginginkannya agar ukiran yang mereka buat memiliki etalase tersendiri, meski selama ini pun ukiran suku kamoro dibantu dijual oleh seorang warga Negara asing, Kal Muller. Kisah tentang suku kamoro dan ukirannya, serta peran Kal Muller di tengah perjuangan mereka mempertahankan tradisi itu, kemudian jadi liputan tersendiri yang tayang di program 360.

Seorang pengukir suku kamoro atau baramoe sedang beraksi
Usai mengunjungi desa iwaka, rombongan menteri kemudian menyerahkan piagam penghargaan dari UNESCO tentang noken di kawasan SP (Satuan Perumahan) 13. Selain piagam penghargaan, peta terbaru Indonesia juga diserahkan menko maritime ke pemerintah setempat, lengkap dengan penjelasan tentang apa yang bisa dibaca dari peta itu. Meski dikemas dalam acara formal, saya membaca gelagat menteri Indroyono Susilo untuk lepas dari kekakuan itu. Kunjungan menteri hari itu pun berakhir dengan kunjungan ke sebuah dermaga di muara sungai di Mimika. Lalu bagaimana nasib keberangkatan tim wartawan ke Tembagapura? Jawabannya ada di pertemuan malam harinya.
 
Anak-anak di kawasan pemberian piagam penghargaan diajak berselfie
Di sebuah hotel yang dekat dengan bandara Mozes Kilangin, sebuah pertemuan antara menteri dan pejabat setempat berlangsung. Laksda Buyung Lalana sebagai komantan mariner bergantian berpidato dengan menteri pariwisata Arief Yahya. Di sela pemaparannya tentang nilai ekonomi dari pariwisata ke puncak carstensz, menpar memerintahkan stafnya untuk menjadikan perbincangan tentang carstensz sebagai trending topic di internet, lengkap dengan guyon bahwa jika tim wartawan gagal tiba di puncak, maka kami tidak boleh turun. Pembicaraan tentang ekspedisi pun berpindah ke forum yang lebih kecil.

Menpar menghadiahkan menko maritim dayung yang diukir suku kamoro
Di ruangan lain, yang dihadiri pejabat Kabupaten Intan Jaya, perwakilan mariner, operator pendakian dan wartawan, kepastian keberangkatan melalui Tembagapura dibahas. Hingga kala ketika rapat itu digelar, PT Freeport selaku pengelola kawasan tambang Tembagapura, tidak memberi izin untuk kami melewati wilayahnya, karena Freeport pun sedang menggelar acara kunjungan media yang rutin digelar menjelang 17 Agustus. Dengan demikian, mereka tidak bisa menyediakan fasilitas maksimal untuk para wartawan yang baru akan minta izin lewat ini. Kepala dinas pariwisata Kabupaten Intan Jaya menafsirkan itu sebagai kalimat penolakan dalam wujudnya yang paling halus. Kebuntuan pecah setelah disepakati bahwa esok harinya, tim wartawan akan berangkat bersama tim mariner yang ditarik turun lagi ke Timika. Permohonan izin akan dilakukan ketika wartawan tiba di pintu masuk kawasan Tembagapura. []

Saya berusaha membuat anak ini berhenti menangis. Hehe


Labels: , , ,