Kegilaan Mad Max


Mad Max akhirnya rilis di bioskop. Kawan saya di instagram bilang ini film terbaik sepanjang 2015. Masa sih? Teman saya di grup chat band Operasi Plastik bilang film ini rangkingnya di rotten tomatoes tinggi banget. Pas dicek, bener juga. Di IMDB juga film ini kalahkan Interstellar. Penasaran juga saya. Alhasil pada hari libur pekan ini saya sisihkan waktu buat nonton Mad Max: Fury Road. Gak tanggung-tanggung, langsung nonton di IMAX. Biar audio-visualnya lebih memuaskan.



Mad Max: Fury Road adalah sekuel dari film berjudul serupa yang sebelumnya diperankan Mel Gibson. Sekarang yang jadi Max adalah Tom Hardy. Film ini berkisah tentang dunia di masa depan yang sudah rusak. Antar kerajaan/ suku/ bangsa/ geng/ negara saling susun strategi buat bertahan. Ada sebuah kerajaan yang bermarkas di tempat bernama Citadel (dibacanya sitadel yah bukan citadel. Citadel mah atuh belah kencaeun cicaheum belah ditueun cikuluwut. Haha). Kerajaan Citadel dipimpin raja bernama Immorta Joe. Kerajaan ini punya tentara bernama war boys. Dalam yel-yelnya, mereka meneriakkan semangat berani mati demi raja. War boys ini kalau lemas, harus ditransfusi darah manusia non-war boys. Nah seorang war boys bernama Nux sedang menikmati transfusi darah dari tokoh utama kita yang bernama Max. Ketika itu panglima perang Immorta Joe yang bernama Furiosa, ternyata berkhianat. Dia menculik selir-selir Immorta Joe.

Seluruh kekuatan kerajaan itu kemudian dikerahkan untuk mengejar Furiosa. Nux yang setia kepada rajanya, tentu tak mau ketinggalan “mati sahid”. Dia nekat ikut berperang dengan membawa kantong darah transfusinya yang berupa pria bernama Max tadi. Mulailah dari situ keseruan, kehebohan, keberisikan, kewahan, kebombastisan film ini dimulai.

Karena nonton di IMAX, tata gambar dan suara yang saya alami memang menggelegar dan membelalakkan. Gak terlalu memanjakan sih. Maksudnya saya merasa kurang maksimal. Mungkin saya duduk terlalu jauh. Rasanya beda dengan ketika nonton Prometheus dan Gravity di tempat itu. Apa memang karena filmnya? Tapi ada kok beberapa adegan yang membuat saya seperti ikut melayang mengikuti gerakan kamera yang menyapu pandangan dari atas. Jatuhan sesuatu yang mengejutkan dan menghantam ke arah layar juga tak jarang membuat saya berkedip takut ketimpuk. Haha. Suaranya juga mantep. Meski pun ketika perang-perangan ada campuran suara deru mesin, gemuruh padang pasir, hingga sayatan musik metal. Ya, musik metal yang dibawakan langsung sama seorang war boys dari rig atau mobil perangnya. Oh my god epic banget bagian itu. Saya sebelumnya tak pernah merasa ngeri sekaligus berdecak terkesima melihat seseorang memainkan gitar seperti itu. Segan sekali.


Jalinan ceritanya cukup rapi tersusun. Meskipun ini sekuel, kita tak akan terseret dengan beban kisah di film sebelumnya. Saya belum pernah nonton Mad Max yang sebelum ini, tapi ngerti bahwa Max trauma dengan kematian keluarganya di film terdahulu. Saya juga suka dengan simbolisasi di film ini. War boys saya maknai sebagai gambaran fanatisme buta. Sebutlah para war boys itu “pengantin”, yang rela “mati sahid” karena mereka yakin (seperti yang mereka teriakkan sebelum menjemput maut) “I live, I die, I live again”. Jika mengabdi ke Immorta Joe dengan teladan, mereka akan berakhir di sebuah tempat bernama gerbang Valhalla (entah apa itu Valhalla dan seperti apa bentuknya. Mungkin ada di film sebelumnya). Sosok war boys garang badass sialan tapi keren berhasil dimainkan Nicholas Hoult. Saya gak nyangka dia bisa seberingas itu. Di film Warm Bodies yang dia mainkan, dia masih terlihat manis meski berperan sebagai vampir (ya meskipun memang itu yang diminta sutradaranya). Tapi di perannya sebagai Nux kali ini, dia benar-benar gila. Inilah Joker di film Mad Max. Di beberapa bagian dia terlihat seperti Gerard Way di video klip Welcome to Black Parade. Haha. Tapi ada lagi yang lebih bikin pangling. Charlize Theron. Oh god, ini ibu-ibu yang biasanya tampil cantik judes jadi tomboy dingin gitu. Tapi saya baru bisa membayangkan bahwa itu Theron setelah dia berekspresi macam-macam di film. Kalau liat di poster aja, saya gak bisa identifikasi bahwa itu si pemain antagonis di film Prometheus dan Elysium yang berkesan itu.
Intinya, film ini memang seru. Ya meskipun kritik di Koran Kompas Minggu lalu memang menyatakan ganjalan yang juga saya rasakan. Ada rasa bosan dengan kekerasan yang seakan tanpa henti itu. Entahlah kenapa. Beda dengan ketika saya nonton The Raid 2 yang sepanjang film laganya yang intens itu tetap menggairahkan. But still, “what a lovely (holi)day!” []

Labels: , ,