Dari Leipzig ke Berlin


Sehari jelang pulang lagi ke Indonesia, saya dan Mas Ilham wartawan Kompas, menyempatkan diri berkunjung ke Berlin. Sore itu kami berangkat sekitar jam 3. Wawancara Antje dan keluarga Fickert didapat ketika kami dalam perjalanan ke Berlin itu. 

Persinggahan pertama kami menuju Berlin, adalah Leipzig Hauptbahnhof, stasiun pusat. Di dalam pesawat, ketika perjalanan menuju Jerman, saya sempat nonton video dokumenter tentang kota Leipzig. Stasiun Pusat Promenaden ini dibahas sebagai stasiun yang usianya ratusan tahun dan tetap lestari. Selain stasiun ini, yang menurut liputan itu wajib dikunjungi di Leipzig, adalah makam, gereja, dan patung Johann Sebastian Bach. Sayang, saya gak sempat ke sana. Coba tiga jam ketersesatan hari jumat itu saya pakai buat ke sana aja, pasti angle liputan saya makin kaya. Yah mungkin lain kali, semoga. Hehe
saya dan Mas Ilham menumpangi kereta yang langsung melaju dari Leipzig ke Berlin. Lama perjalanannya satu jam. Nyaman sekali keretanya. Pemandangan di luar jendela bagus banget. Begitu nyampe di Berlin rasanya terlalu cepat masih pengen naik kereta itu soalnya enak. Hahahaha. Ketika foto ini diambil, seorang ibu di kursi seberang ngeliatin. Saya senyum ramah, dia lempar senyum yang dikombinasikan dengan gelengan kepala. Hehe. Ibu itu mengisi Sudoku selama perjalanan. Saya sempat ambil videonya. Lalu seseorang berdandanan punk di depan si ibu kasih tanda ke saya dengan menggariskan lehernya pakai telunjuk. Katanya itu melanggar privasi. Jangan. Saya langsung bungkus lagi si kamera. Untung si ibunya gak tau. Hehe.
padahal segala hal spesifik yang berkaitan dengan Bach ada di depan sana, di sebelah kanan dari monument di kiri foto. Masuk jalan kecil di sana. Meskipun dekat, tetap saya gak bisa mampir karena waktunya terbatas.
akhirnya kami tiba di stasiun Berlin. Ada pameran foto juga di sana, kami sempat lihat-lihat dulu.

begitu keluar dari stasiun besar itu, gerombolan anak punk menyebar acak. Botol minuman beralkohol tergeletak gitu aja. Di satu sudut pintu masuk stasiun, seorang wanita bertindik di mana-mana, joget diiringi music yang sepertinya lagu Atari Teenage Riot. Di bagian lain tiga orang berdandanan serupa, ngobrol dengan loud speaker portable yang kencang putar music digital hardcore yang sama. Selamat datang di Berlin. Eh coba deh lihat di bagian pundak kanan saya. Kelihatan kan kubah sebuah gedung. Nah itulah tujuan pertama saya: gedung parlemen Jerman.
di perjalanan menuju gedung parlemen, saya melewati jembatan dan sungai Spree. Indah sekali pantulan cahaya di sungai itu. Dari sini juga terlihat menara Alexanderplatz. Menara itu juga sempat kami singgahi. Nggak ke dalem menaranya sih. Hehe.
itulah gedung parlemen Jerman. Kubahnya dibuat transparan, sebagai symbol keterbukaan. Gedung parlemen ini selain jadi kantor pemerintahan, juga tempat wisata. Malam minggu itu, sejumlah pengunjung mengantri masuk.
kami pun melanjutkan perjalanan ke patung yang menyembul dari taman di samping gedung parlemen. Rupanya itu benteng Brandenburg, monument warisan kekaisaran Prusia yang dibangun pada abad ke-18. Di tempat saya berdiri ini, dulunya ada tembok berlin, tembok yang memisahkan Jerman Timur yang berpaham komunis dan Jerman Barat yang liberal. Saya kemudian menuju bagian bawah monument itu. Ramai sekali, ada lomba balap karung. Iya, balap karung. Lalu ada banci yang dikerjain orang-orang mabuk atau mungkin orang yang terlalu ekspresif. Di sisi lain monument ada sebuah bus wisata. Tadinya kami mau naik bus itu tapi keburu pergi dia. Kami pun jalan entah ke mana. Eh saya kok dengar ada kata “dingin banget”. Saya samperin lah orang-orang yang berfoto itu. Sok-sokan saya tanya dalam bahasa Inggris, rupanya salah satu dari mereka orang Ciledug, sedaerah sama Mas Ilham. Hahaha. Mereka mahasiswa Swiss Germany University yang lagi magang. Saya dan Mas Ilham sih inginnya bisa ke sisa tembok berlin, atau museum yahudi. Tapi ternyata malam itu tutup dan lokasinya jauh. Mereka pun sarankan kami ke Alexanderplatz aja. Kami pun ke sana menggunakan bus. 
Alexanderplatz ini sebenarnya menara pemancar televisi atau semacamnya. Kami cuma berfoto gini aja di sini. Abis itu pulang. Haha. Soalnya bentar lagi jadwal keberangkatan kereta kami, jam 10 malam. 
Saya berfoto di depan stasiun. Ada tiang tempat nempel stiker toh. Saya baru sadar. Haha.
Tau gitu stiker windielf ditempel di sana aja
ini kereta yang berasal dari rusia. Di dalamnya ada ranjang bertingkat. Sepertinya seru kalau keliling Eropa pakai kereta. Selama menunggu jadwal keberangkatan kereta kami, ada seorang Turki yang bertanya, tapi dia gak bisa berbahasa inggris. Mas Ilham yang jago bahasa arab, ngajak dia ngobrol. Dia ceritakan ke si Turki bahwa kami dari Indonesia. Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, dan dia baru tau. Haha. Kami terpisah karena berbeda gerbong. Jenis kereta pulang yang kami naiki beda sama yang pertama. Kali ini kami harus transit dulu di stasiun lain sebelum pindah ke kereta yang menuju Leipzig. Di kereta yang menuju tempat transit, kami tanya ke petugas, harus berhenti di stasiun apa. Kata si petugas, lihat aja jam kedatangannya. Pokoknya jam segitu, turunlah di stasiun itu. Saya dan Mas Ilham saling pandang. Gitu ya? Jadi patokannya waktu kalo di sini? Emang bakal on time? Hahaha. Ternyata emang bener. Meskipun begitu nyampe di stasiun transit, mepet banget waktunya. Kami harus jalan cepat biar gak telat masuk kereta berikutnya. Jam 12 kami sampai di Hauptbahnhof Promenaden dan langsung nyambung naik tram ke hotel. Tram di Leipzig beroperasi 24 jam loh. Jam 1 dini hari, kami pun tiba di hotel.
Perjalanan di Berlin, akan saya kemas dalam sebuah paket berita tentang bagaimana Jerman menjaga masa lalunya, sepahit apa pun itu. Di sebuah toko cendera mata, saya lihat ada bongkahan kecil puing tembok berlin yang dijual. Kartu pos pun banyak yang bergambar kisah getir itu. Sementara itu di sisi lain, Indonesia punya pengalaman serupa. Malah topik itu laris diminati publik Jerman. Peristiwa G30S selalu jadi hal yang menarik sekaligus kontroversial di Indonesia. Ahmad Tohari, penulis Ronggeng Dukuh Paruk—yang berkisah tentang kesengsaraan seorang penari di tengah gegar peristiwa 1965—menyarankan agar gedung CC PKI seharusnya dilestarikan, agar bangsa kita belajar. Monument kesaktian pancasila menurutnya kurang cukup. Tapi yang jauh lebih penting dari itu, menurut penulis yang sehari-hari tinggal di Purwokerto itu, pemerintah harus memberitahukan kejadian sebenarnya kepada generasi muda. Bukan untuk menyalahkan yang memang bersalah, tapi agar kejadian serupa tak terulang. []

Labels: , , , ,