Obrolan Habibie di Meja Makan



Bubur Manado

          Bubur manado dan empat jenis masakan ikan sudah tersaji di meja makan. Dengan malu-malu, saya dan Yudha duduk bersebelahan di hadapan Eyang Habibie.
“Ini tempatnya Eyang Ainun”, ujar Eyang Habibie menepuk kursi di sebelahnya. “Selalu kosong, jadi saya disini. Yang duduk disini paling banter cucu saya”.
     "Jarang-jarang kan Yang bisa kayak gini?” kata saya yang masih takjub dengan kesempatan semeja makan dengan B.J. Habibie.
“Oh enggak, enggak pernah”, timpal Eyang Habibie membuat kami merasa spesial.
“Berarti kita pertama ni Za?” Yudha menanggapi.
“Iya pertama, pertama”, Eyang Habibie meyakinkan lalu menyeruput cappucino decafe-nya.
“Yang datang sini, dulu makan dengan saya Jimly”, lanjutnya merujuk pada Jimly Asshiddiqie, mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu.
Sekitar satu jam kami asyik berbincang di meja makan itu. Kami bicara banyak tentang berbagai hal. Semuanya tentu berawal dari apa yang tersaji di hadapan kami. Jumat, menu makan siangnya bubur manado. Entah menu jenis apa lagi yang tersaji di hari lain. Tapi yang pasti, ada ikan tiap hari. Eyang Habibie mengaku sangat jarang makan daging merah. Hanya sekali-kali katanya.
“Tapi saya seneng loh. Rupanya enak juga ya? Hehehehe. Tambah ininya nanti ga enak. Ini kalau habis paling baik. Dan ini tidak jadi gemuk. Seratnya banyak.” Eyang Habibie menyarankan saya menambahkan lagi bubur ke piring.

Kolam Renang
 
“Meja ini sejak lama Eyang?” Saya cari topik lain.
“Oooh udah lama. Bawa dari eropa. Itu meja ini dulu kan saya punya rumah dinas di Hamburg, rumah pribadi di luar. Seperti rumah dinas di Kuningan, rumah pribadi di Cibubur, atau Cikeas. Saya punya rumah dinas di Kuningan-nya Hamburg. Nah ini dulu di rumah dinas, tapi dulu rumahnya kosong, jadi beli sendiri. Sedangkan rumah saya sendiri, rumah dinas ga ada swimming pool.”
“Tetep nomor satu swimming pool ya. Hahahaha.” Yudha menimpali diiringi tawa kami.
Kolam renang di rumah, bagi Eyang Habibie mungkin sama pentingnya seperti kamar mandi. Setiap pagi, ia menghabiskan waktu rata-rata satu jam untuk berenang. Saya dan Yudha dalam kesempatan lain pernah diajak melihat kolam renangnya.
“Coba pegang!” suruh Eyang Habibie agar saya menyentuh air di kolam. Airnya hangat. Kolam renang di rumah Habibie juga dilengkapi speaker di bagian dalam airnya.
“Enrique Iglesias!” saya lempar sebuah nama. Eyang Habibie terperangah lalu pecah tawanya. Tiap kali berenang, ia memang selalu mendengar lagu-lagu penyanyi asal Spanyol itu.


 Calon Presiden

Selain hal-hal seputar kehidupannya, obrolan kami di meja makan juga tak lepas dari topik politik. Keesokan hari setelah makan siang itu, Eyang Habibie akan memberi ceramah untuk kader Golkar. Eyang Habibie mengkritisi sistem politik masa kini yang tidak menguntungkan. Menurutnya sistem money politics kebangetan. Seorang politisi perlu bermodal beberapa milyar untuk mendapat sebuah posisi.
“Dari mana duitnya?” pungkas Eyang Habibie.
“Tapi yang saya enggak ngerti, kok kenapa raja dangdut dimasukkan. Ya toh? Terus ada yang mengatakan, yang bisa tandingi raja dangdut hanya itu, si itu. Tukil apa itu? Tukul. Hahahahaha. Kan bukan begitu, karena itu saya bilang, untuk presiden jangan kita pilih dari kalangan selebriti. Kita pilih orang yang problem solver.”
         “Kalau dari sekian orang yang sudah mendaklarasikan, kira-kira siapa yang memikat?” tanya Yudha.
            “Saya lebih mau yang muda-muda.” Timpal Eyang Habibie.
            “Dan yang dari kalangan akademisi? Eyang suka?” saya lanjut bertanya.
            “Enggak. Saya enggak peduli apa dia S1, S2, S3 atau es lilin.” ujarnya beriring tawa.
        
 Kisah Kereta

Suapan terakhir di makan siang itu tandas. Seorang asisten Eyang Habibie mengantarkan segelas air dan piring kecil berisi obat.
“Saya tiap hari tadinya 22 obat. Terus direduce, dikurangi jadi 16. Sekarang makan 16, siang dan malam. Ini vitamin C, yang ini E. Yang obat hanya ini,” ia pisahkan sebutir pil kecil, obat untuk jantungnya.
            “Tapi saya cerita sesuatu ya.” Eyang Habibie memulai sejudul topik baru.
“Dulu, masih ada wartawan-wartawan. Saya kan pernah mendapat pena mas dari PWI. Terus saya tanya. Eh, kalian masih ingat ga itu, mengenai kereta api di taman mini? Yang diatas, digerakkannya dengan angin kan?”
“Tahu Pak kami tidak boleh perlihatkan.” Eyang Habibie menirukan wartawan yang dulu diajaknya berbincang.
“Jadi dulu, ada satu tim dari Eropa dari Brazil, dibawa supaya dimasukkan proyek kereta api underground. Terus Pak Harto bilang ya kalau Habibie setuju silahkan. Saya tidak setuju. Karena teknologinya menurut saya kalah. Bisa terjadi, kalau kapal terbang kalau landing begini bisa sreeeet gitu. Stop gitu kan.” Tangan Eyang Habibie memperagakan diatas meja
“Ini juga dia main angin. Kalau pada kecepatan tertentu dia bisa bocor. Debat debat debat, saya tanya sama orang ini. Kamu di Brazil beli ini dari Jerman? Iya. Kamu sudah pake ga? Belum. Kenapa tidak dipake? Tapi bapak kan suka hi tech. yaaa, tapi harus proven. Kamu punya tempat percobaan? kalau menurut analisa saya, pada cekungan tertentu dan alphanya begini itu akan terjadi reverse. Dan itu seakan-akan nabrak dengan satu dinding.“
“Dia bingung kan. Yasudah kamu punya kereta punya? Bagaimana pemecahannya? Garis lurus. Kamu gila saya bilang. Tidak ada garis lurus. Udah akhirnya saya dipanggil Pak Harto, saya jelaskan. Jadi kalau dia buktikan bahwa itu bisa melalui sebuah tes, kamu mau? Ya, kalau dia memenuhi syarat dan harganya oke, no problem.”
“Terus mereka buat suatu tempat tes di taman mini. Yang buat ininya kakaknya ainun. Itu kan guru besar kan. Profesor dekan di ITB. Dia ahli dari bagian sipil, Mas Harry, Mas Harry Besari. Terus saya ditanya sama dia. Rudy Katanya kamu against ya? Saya against. Tapi bagaimana Mas, saya kan pernah bikin kereta api juga. Itu ga bener itu. Tapi kamu ga marah? Silahkan kamu buat. Kamu kan cari duit. Halal kan. Dia buat.” Tuturnya sambil menirukan ucapan sang kakak ipar.
“Terus dapat undangan. Satu tahun kemudian selesai dan diundang, hari Sabtu, semua kabinet. Tempat saya dan Ibu Ainun kosong. Saya ga mau dateng. Karena saya yakin akan terjadi sesuatu. Itu kereta api. Pada kecepatan tertentu jadi apa yang saya prediksi. Duaaarrrrr, sampe kondenya Ibu Tin lepas. Iya. Dan itu menteri perhubungan itu Azwar Anas itu kaget. Giiila.” Paparan Habibie sampai di klimaks.
“Jadi sebelumnya mereka kan bukan ahli-ahlinya. Kan sebagian besar orang tahu Pak Habibie itu ahli konstruksi pesawat terbang. Tapi saya pernah buat kapal selam, saya pokoknya semua yang kaitannya dengan konstruksi. Waktu ketemu di Manado, wartawan bilang Pak kami hadir. Hahaha.” Kami kemudian menghela nafas. Hahaha. Seru sekali cerita beliau.

Habibie & Ainun
 
         Sepotong melon tersaji di hadapan kami. Topik pembicaraan lain datang, membuat kami enggan segera beranjak.
“Minimal sehari baca buku atau gimana Eyang?” tanya Yudha.
“Saya hanya baca buku yang berkaitan dengan pekerjaan yang sedang saya laksanakan. Orang kan hanya 24 jam. Saya tidak akan baca buku yang tidak ada kaitannya dengan saya punya yang sedang saya nulis, sebuah research. Karena dalam pendidikannya gitu. Kan kalau Anda buat research, kan sebelumnya baca dulu”, pungkas Eyang Habibie.

Bicara soal buku, Eyang Habibie membocorkan kisah terbitnya buku Habibie dan Ainun. Awalnya Eyang Habibie mengirimkan tulisannya kepada seorang sahabat, Wardiman Joyonegoro. Menteri pendidikan era akhir orde baru itu mengomentari bahwa buku yang dibuat Eyang Habibie belum bagus. Eyang Habibie menjelaskannya dalam tawa. Setelah melalui sejumlah revisi, dicetaklah buku itu. Kini Habibie dan Ainun juga diterjemahkan dalam bahasa Jerman, Jepang, dan Cina.
Eyang Habibie pernah bertanya kepada seorang pembaca bukunya dari Cina. Kenapa suka buku Habibie dan Ainun? Katanya karena kisah Habibie Ainun seperti versi nyata dari kisah Laila-Majnun, atau Romeo and Juliet, tapi tentu dengan ending yang tak serupa.
“A true story of a young couple; Starting from nothing to get everything done. Becoming the President and the First Lady of a country. Not even death could separate them, because of the power of love”, Eyang Habibie membunyikan sebuah ulasan tentang Habibie dan Ainun dalam Bahasa Inggris.
“Well, kalian harus berkarya lagi”, ucapnya di penghujung pertemuan. Sore itu sudah ada tamu lain yang antri ingin bertemu Eyang Habibie. Di usianya yang ke-77, Eyang Habibie tidak memilih berleha-leha. Jadwalnya selalu padat, dan saya sangat beruntung bisa menyusup diantara jadwal itu. []

Labels: , , ,