Inspirasi Dari Ahok


Saya baru saja dapat pencerahan. Sumbernya sebuah film berjudul Jadi Jagoan Ala Ahok. Ya, Ahok yang dimaksud di judul itu Ahok gubernur DKI Jakarta sekarang, Basuki Tjahaja Purnama. Di film dokugrafis (dokumenter campur visual grafis) ini Pak Ahok direkam kegiatannya selama berkampanye untuk jadi anggota DPR RI tahun 2009. Bukan cuma aktivitas kampanyenya sih. Jadi ada beberapa bagian film yang membahas Ahok mulai dari filosofi berpolitiknya apa, triknya buat menyampaikan visi-misinya gimana, sampe bagaimana tanggapan orang atas politisi kelahiran Belitung Timur ini. 

Ini adalah salah satu bagian terasik dari film Jadi Jagoan Ala Ahok. Ceritanya dia diundang datang kampanye ke sebuah pulau. Ahok menyanggupi hadir. Pas mau pake kapal speedboat, hujan. Akhirnya dia nunggu hujan reda. Takut pengundang nungguin lama, Ahok memaksakan berangkat. Di tengah jalan, speedboat yang Ahok pake mau dipake seorang pejabat. Dipindahlah Ahok ke sebuah perahu boat kecil di tengah cuaca hujan di tengah laut. Untungnya dia selamat dan sampai di tempat tujuan. Lalu dalam keadaan basah kuyup, ia menemui orang-orang yang ingin mengenal sosoknya.


Jadi Jagoan Ala Ahok merubah sikap saya yang pesimistis soal politik di daerah, terutama daerah asal saya, Garut. Dua kali berturut-turut bupatinya kena kasus korupsi, saya ga yakin tahun ini waktunya buat Garut tampil dibawah asuhan bupatinya yang berprestasi, apalagi setelah melihat kelakuan kurang terpuji si bupati "transisi". Kisah Ahok di Bangka-Belitung mengingatkan saya bahwa politisi hebat kaliber nasional lahir dari daerah, buktinya Ahok muncul bahkan dari kabupaten yang baru lahir tahun 2003, Belitung Timur. Pak Ahok baru aja dapet penghargaan anti korupsi Bung Hatta. Beruntung sekali ibu kota kita. Semoga hasil kerja baiknya cepat dirasakan penghuni Jakarta.


Film Jadi Jagoan Ala Ahok menarik karena selain departemen visual grafiknya yang ciamik (karena lahir dari kreatifitas bos Hello Motion Academy Wahyu Aditya), ada semacam drama dalam alur kisahnya. Ada protagonis, ada antagonis, indah sekali. Tapi yang paling menyentuh sih, film ini menyadarkan saya bahwa kadang harapan itu tak cukup cuma ada, tapi juga butuh kesempatan buat diketahui orang. Setelah nonton film ini, saya ga ogah-ogahan lagi kalau ada calon pemimpin yang mau "jual diri". Tanggal 17 November mendatang, ada pemilihan bupati Garut putaran kedua. Semoga nanti ada Ahok lain lahir dari sana.

Labels: , ,