Dharma Gita Mahaguru

Puteri Sang Putera Fajar Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri, menceritakan ringkasan perjalanan hidup ayahnya melalui pementasan drama bertitel Dharma Gita Mahaguru. Pementasan ini bahkan menggambarkan kondisi nusantara sebelum Indonesia ada. Patih Gajah Mada tampil merapalkan sumpah palapa, bahkan kisah pertempuran cakil dan garuda demi Sinta juga ada. Barulah setelah sebuah tarian kecak, Soekarno dikisahkan lahir. Soekarno lahir dari ibu yang berdarah Bali. Jadi tarian khas Bali yang menyambut kelahiran Sang Putera Fajar itu menurut saya sebuah deskripsi cantik. Alur kemudian terus bergulir. Kusno atau Bung Karno kecil beranjak dewasa. Ia berguru ke tokoh politik Cokroaminoto. Bung Karno lalu dipenjara karena penentangannya pada penjajahan. Ia kemudian bertemu Bu Fatmawati, ibu sang sutradara yang diperankan oleh aktris senior Widyawati. Singkatnya, Bung Karno membacakan teks proklamasi, lalu berpidato menyatakan kelahiran Pancasila, berdiskusi dengan seorang petani bernama Marhaen yang diperankan rapper Iwa K. Penampilan Iwa K. diwarnai senandung lagu Bebas yang populer dinyanyikannya sejak tahun 90an. Klimaks dari kisah Dharma Gita ini adalah peristiwa G30S/PKI. Peristiwa itu tentu tak lepas dari sosok Soeharto yang kemudian menguasai Indonesia melalui Supersemar yang diwanti-wanti Bung Karno bukan sebagai surat pengalihan kekuasaan. Soeharto yang diperankan wartawan Prabu Revolusi lalu membubarkan PKI. Aksi itu tidak dilakukan Bung Karno karena khawatir terjadi perpecahan antar sesama bangsa Indonesia. Bung Karno lalu menghabiskan akhir hayatnya di Wisma Yaso. Ia digambarkan begitu sedih, gundah, dan tersiksa. Bung Karno pun wafat. Seorang perempuan muda yang sepertinya ia adalah representasi si sutradara, berlari menangisi peti mati ayahnya. Sujiwo Tedjo hadir kembali menutup lakon, setelah menyanyikan Pada Suatu Ketika, lagunya sendiri. Titik Puspa, Tarzan dan Kadir lalu menyampaikan epilog. Mereka bilang jangan sekali-kali melupakan sejarah, jas merah. Saya sebenarnya agak mengerutkan dahi, bukankah Bu Rachmawati harusnya lebih tahu tentang kurang tepatnya penggunaan jas merah? Layar meredup, lalu semua pemeran menghormat penonton, pertunjukan usai.





Sebelum pentas dimulai, saya mewawancarai sutradara, Rachmawati Soekarnoputri. Dari wawancara itu, saya lalu tahu bahwa awalnya, peran Soekarno akan dihadiahkan kepada seorang wartawan, Andri Jarot. Namun katanya setelah melalui berbagai pertimbanga, akhirnya Anjasmara yang jadi Si Bung. Prabu Revolusi juga direkrut atas kehendak Bu Rachma. Rupanya kakak mantan presiden Megawati Soekarnoputri ini suka bereksperimen dengan peran. Tengok saja Widyawati yang didapuk sebagai Bu Fat. Sebenarnya tak ada masalah ketika melihat sosok Widyawati yang masih terlihat muda dari usianya yang sudah kepala 6. Bu Fat usianya lebih muda dari Bung Karno ketika Sang Putera Fajar menyuntingnya. Tapi ketika tahu bahwa Widyawati sudah senior, rasanya saya lebih suka beliau jadi Inggit saja, salah satu istri Soekarno yang usianya lebih tua dari Sang Bung.


Peristiwa G30S/PKI adalah peristiwa besar. Dalam drama Dharma Gita Mahaguru, deskripsi pembunuhan jenderal digambarkan dengan indah. Tujuh jenderal yang membentuk pose monumen pancasila sakti, dihampiri sosok misterius yang kemudian menusuk-nusuk boneka yang ia bawa. Para pahlawan revolusi itu pun berjatuhan satu-persatu. Ada sebuah cerpen yang saya suka. Cerpen ini ditampilkan dalam rubrik cerpen Kompas hari Minggu 8 Juli 2012, judulnya Kabut Ibu. Cerpen ini menurut saya cerdas, karena mampu menampilkan nasib para korban peristiwa pemberontakan itu, dalam tuturan fiksi yang mistis dan alur yang eksotis. Selain itu, salah satu referensi saya untuk mengetahui fakta dibalik G30S/PKI, adalah melalui film dokumenter Shadow Play


Akhir-akhir ini, seni pertunjukan sepertinya sedang menggeliat hebat. Tema yang diangkat juga menarik, kebanyakan menceritakan kembali kisah masa lalu atau cerita rakyat. Itu artinya, kita tidak sedang melupakan sejarah. Kita juga selalu ingat dengan pesan Bung Karno untuk tidak sekali pun melupakan sejarah, Jali Merah.

Labels: