Di Jalan: Ada Polisi

Siang itu sayang dan adik hendak bertolak dari Dago menuju Limbangan. Di depan terminal Cicaheum, laju kendaraan melambat. Ternyata ada razia polisi, dan malangnya, seorang petugas berurutan mengarahkan telunjuknya ke motor saya dan pinggir jalan. Surat-suratan sudah saya keluarkan, aman semua. Tiba-tiba pak polisi tanya, "Kang Rheza kenapa lampunya ga dinyalain?" mampus, saya lupa nyalain lampu. "Oh iya pak lupa, ini langsung dinyalain kok," sambung saya reaktif. Si bapak malah nyuruh saya nyamperin dia, SIM-STNK dia pegang. Katanya tanggal 18 saya ada waktu ga? Sial. Saya bilang ga bisa, lalu pak polisi nawarin titipin denda ke dia. Trus si pak pol buka buku kecilnya tempat dia nyatet, di bagian belakang ada kertas kecil yang dilaminating, isinya jenis pelanggaran, undang-undang yang sepertinya ngatur sanksi, dan nominal denda. Atas pelanggaran saya yang lupa nyalain lampu, di kertas itu tertulis denda 100.000, tapi si bapak bilangnya setengahnya aja. Saya ga banyak omong lah yang penting bisa jalan lagi. Setelah ngasih uang+tanda tangan di form penyerahan, saya pergi lagi membawa perasaan kesal. Kalo memang segitu doang pelanggarannya, kenapa ga ngingetin aja dari pinggir jalan, suruh nyalain lampu, kan jelas efeknya, si pengendara jadi sadar saat itu juga, tanpa ada bumbu kejadian lain, tapi yaudahlah. Saya ngaku salah, lupa. Yang saya sesalkan, mereka seakan memanfaatkan pelanggaran sebagai sumber pemasukan. Biar timbul efek jera kali ya, Okelah. Sistemnya yang salah kali ya, sehingga para penegak hukum tadi malah harus dijadiin musuh gitu. Salah mindset sayanya juga kali ya, sebenarnya polisi ga sejahat itu kok.

Di bundaran deket IAIN Bandung ternyata macet, tepat di depan saya sebuah mobil box mengantri maju. Di bagian belakang mobil itu ada sebuah tulisan, All Cop are Bastard. Saya langsung minta adik memotretkan tulisan itu. Ada juga tulisan ironik lain di box mobil itu, katanya Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Bangsat. 



Belakangan ini, citra polisi emang lagi rusak. Terakhir kita denger kabar polisi di Papua dibayar perusahaan luar yang butuh pengamanan disana, dan kapolri bilang itu hal yang wajar. Kritik buat polisi juga muncul dalam berbagai bentuk, diantaranya berupa musik. BRNDLS baru aja rilis video klip Awas Polizei, Ucok Homicide rilis kompilasi/mixtape lagu-lagu tentang kebobrokan polisi. Tapi jangan sedih dulu, masih banyak polisi baik disana, percayalah, salah satunya bang Norman, briptu yang humanis itu.

Labels: