Manis Getir Skripsi: Sudah Digariskan

Dunia ini bukan hanya Darmaga, bukan hanya Bogor bukan pula sebatas Indonesia. Masih banyak bagian lain bola dunia yang menyajikan beragam khazanah dan ilmu. Dengan menapaki sisi lain bumi ini dan meresapi esensi di setiap destinasi, maka kita akan berpeluang menemukan hal baru yang bisa diterapkan di lingkungan mikro kita. Bahasa singkatnya, think globally act locally ga bakal tinggal jadi semboyan doang.


Untuk misi diatas, dalam rentang 5 bulan pertama tahun ini, saya sudah melewatkan setidaknya 3 kesempatan belajar di luar Indonesia. Kesempatan pertama adalah IELSP. Program studi dwiwulan di negeri paman sam itu seyogyanya akan saya lalui mulai bulan februari lalu. Namun apa daya, saya tidak lulus. Hehe. Padahal seleksi berkas sudah saya lalui dengan manis, saya lolos tahap wawancara. Nah di tahap wawancara itulah saya gagal. Demi mengikuti program yang juga diikuti Agus rekan sekelas saya ini, saya bela2in ikut lagi di kesempatan berikutnya. Haha. Di kesempatan kedua ini saya juga gagal, bahkan seleksi berkas pun seret. Hehe. Yasudahlah saya pikir, bayangkan kalau saya lulus kesana, dua bulan akan saya lewati tanpa memikirkan skripsi, dan pulang ke IPB dalam keadaan persiapan penelitian yang sangat minim, padahal objek penelitian saya adalah mahasiswa TPB yang akan segera hengkang ke tingkat dua. Jika saya lulus, maka penelitian saya akan tertunda bahkan bisa jadi ganti topik karena masalah ketersediaan responden. Ya, selalu ada makna dibalik setiap realita.


Kesempatan kedua adalah program pertukaran pemuda antar negara (PPAN). Saya sudah melewati tahap akhir untuk program ini, sampe dikarantina 3 hari di Bandung. Hasilnya ya seperti temen2 ketahui, saya belum beruntung. Hehe. Bayangkan saudaraku, jika saya diterima untuk mewakili Indonesia ke Kanada atau Jepang melalui program ini, sekali lagi penelitian saya bisa dipastikan terbengkalai. Info yang saya dapat dari Anggoro yang lulus program ini adalah bahwa mereka yang menjadi wakil Jawa Barat atau Indonesia harus menjalani sesi training rutin di Bandung. Kalau saya lulus, akumulasi ongkos Bogor-Bandung selama pelatihan bisa jadi sama dengan ongkos pesawat Indonesia-Kanada. Haha, lebay juga sih ini kayaknya. Oke, meskipun keduanya sama2 memberi keuntungan, saya tetap bersyukur dengan apa yang saya jalani saat ini. Jika saya lulus PPAN, saya akan belajar tentang budaya dan banyak hal lain, skripsi bisa lah dikorbankan dulu untuk hal ini. Saya juga akan cepat lulus kalau penelitian didahulukan, kesempatan PPAN bisa taun depan. Intinya, saya rasa sama aja kalau pun pilihan PPAN atau skripsi yang terpilih menjadi prioritas terdahulu saya, dan ternyata penelitian adalah proposal yang Tuhan setujui pertama kali. Maka penelitian ini memang sudah digariskan menjadi urutan prioritas.

Kesempatan ketiga adalah perjalanan studi wirausaha dari Forum Indonesia Muda. Bulan lalu saya mengikuti FIM ke-10. Lima peserta terbaik di kegiatan itu akan mendapat kesempatan melakukan studi banding di Singapura selama tiga hari tanggal 13 Juni nanti. Saya tidak termasuk dalam daftar 5 orang itu. bayangkan jika seandainya saya ada diantara mereka. Tanggal 13 (di IPB sedang UAS) berangkat, sebelumnya harus mengurus paspor, dll. Sementara saya belum punya paspor. Kata Agus bikin paspor itu 2 mingguan lah beresnya. Nah kalo selama dua minggu itu saya sibuk ngurus keberangkatan yang tiga hari disana itu, penelitian saya pasti telantar. Kalau ditunda, anak TPB keburu kabur. Ini aja saya buru-buru justru ngejar supaya tidak dekat2 UAS biar ga ganggu mereka dengan jadi responden saya.


Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa penlitian saya memang seperti sudah digariskan Tuhan untuk jadi prioritas pencapaian tahun ini. Meski demikian, saya juga tetap mendapat banyak ilmu, teman, dan pengalaman dari proses yang dialui di tiga gelaran diatas. Maka teman-teman, percayalah kalimat yang disebutkan Ibu Ladya di film Fiksi sebelum ia menembak mulutnya sendiri di depan anaknya yang masih kecil, setiap kejadian ada tujuannya.

Labels: