ADA APA DENGAN (KETIDAKKOMPAKAN) AGRIBISNIS?

Oleh: Rheza Ardiansyah (IKK44) / Pembaca Tulisan ADA APA DENGAN AGRIBISNIS?


Ketika berbicara tentang “keluarga”, maka yang pertama kali terlintas di pikiran kita adalah rasa persaudaraan dan kekompakan. Begitu juga halnya dengan “keluarga besar Agribisnis”. Layaknya sebuah keluarga, kekompakan seharusnya menjadi ciri utama. Tulisan ini dibuat untuk menggambarkan paradigma saya terhadap topik yang dibahas pada tulisan yang bertajuk “ADA APA DENGAN AGRIBISNIS?” karya Ginda Permana Putra yang memaparkan pengaruh PEMIRA FEM terhadap kualitas bonding horizontal di departemen Agribisnis. Saya mendapat kesempatan membaca tulisan itu setelah rekan sekelas menemukan kertas itu di Faperta dan menyarankan untuk membacanya.

Dalam paket tulisannya, ketua BP HIPMA 2010 itu memaparkan fakta bahwa “ketidakkompakan” di AGB dipicu oleh PEMIRA FEM yang selama 2 tahun terakhir diikuti 2 calon ketua BEM dari departemen AGB dan nonAGB. Polemik bermula saat ketua tim sukses untuk calon ketua BEM FEM dari nonAGB, justru berasal dari AGB, dan formasi itu bertahan selama 2 tahun. Aksi ketua tim sukses nonAGB yang mempromosikan calon yang didukungnya di depan rekan sekelasnya yang juga mencalonkan diri menjadi ketua BEM FEM, diniliai mencoreng kekompakan keluarga besar Agribisnis. Ginda juga menulis bahwa pemicu ketidakkompakan itu adalah realisasi dari sebuah skenario yang dirancang untuk memecah suara AGB.

Dalam set ide berformat 4 paragraf itu, Ginda menyatakan bahwa tiap orang memiliki hak untuk mendukung dan memilih siapapun, karena kita hidup di alam demokrasi. Namun yang menjadi permasalahan, adalah perihal pantas/tidak berkampanye di depan rival yang ironisnya ada dalam satu ruangan yang sama, sementara topik mengenai pantas/tidak adalah keputusan yang sangat subjektif. Situasi kontradiksio interminis justru saya lihat di tulisan salah satu mahasiswa AGB 44 itu. Jika benar ia mengakui hak memilih di alam demokrasi, mengapa rekomendasi yang ia ajukan justru mengarah pada keseragaman yang identik dengan anti-demokrasi? Jika memang demokrasi dijunjung tinggi, keberagaman warna dalam satu wadah justru harusnya diakui dan dihargai. Analogi yang kiranya tepat mengenai kondisi diatas adalah potret keluarga yang anggotanya berbeda agama. Keharmonisan dan sikap saling menghargai pilihan personal bukan hal yang tidak mungkin terjadi. Begitu pula dengan perbedaan kayakinan privat mahasiswa AGB atas calon ketua BEM FEM yang ingin dipilihnya. Pengarahan terhadap pilihan tunggal justru akan menghantarkan pada matinya demokrasi, bahkan kemudian komunisme yang muncul. “Kekompakan” yang saya tulis dalam tanda kutip juga bisa membunuh bhineka jika kata itu diartikan keseragaman. Satu-satunya hal yang perlu diupayakan untuk menyikapi perbedaan yang memicu perpecahan adalah penghargaan, apresiasi. Primordialisme departemen juga turut andil dalam ketidakpuasan diatas. Pola pikir mercusuar mungkin—sadar atau tidak—masih melekat dalam benak kita. Citra eksternal lebih diunggulkan dibanding kualitas internal. Melalui tulisannya (yang saya interpretasikan secara subjektif), Ginda terkesan ingin mengunggulkan departemennya dibanding dengan departemen lain di FEM dengan menempatkan salah satu rekannya di kursi kepemimpinan tertinggi mahasiswa di fakultas melalui PEMIRA. Padahal yang harusnya menjadi luaran PEMIRA FEM adalah pemimpin baru yang benar-benar pantas, tanpa mempermasalahkan dari departemen mana ia berasal. Bisa jadi tulisan “ADA APA DENGAN AGRIBISNIS?” justru menjadi pemantik meletusnya isu tentang “kekompakan”. Bisa jadi juga ketidaknyamanan akibat keberagaman keyakinan pribadi adalah bukti bahwa kita belum dewasa dalam memaknai bhineka tunggal ika.

Masif apologi saya haturkan kepada rekan-rekan AGB karena lancang berucap pendapat. Kita yang sekarang duduk di institusi ini adalah pemimpin di masa depan. Jika tidak diingatkan untuk menghargai perbedaan sejak sekarang, maka pemimpin kita esok hari adalah seorang fasis yang mengharamkan perbedaan, sehingga tak ada lagi siklus thesis-antithesis-sintesis yang akan mengarahkan kita pada perbaikan.

Labels: