Dakota

Tertanggal 28 Mei 2010 hari Jumat, saya bersama kawan-kawan sekelas bertolak menuju Jakarta. Tujuannya untuk mengisi waktu libur. Acara itu sebenarnya terselenggara atas nama Himaiko, tapi yang hadir ternyata hanya teman-teman IKK 44, ya sudah tidak apa-apa, mari berangkat.

Untuk selanjutnya, kita bercerita bersama foto. Let’s go!


Menuju kereta


perspektif burung


Menjual ilmu




Ini adalah anak pertama yang kami temui selama perjalanan. Hari itu perjalanan kami di kereta diwarnai tingkah unik para manusia sensori motor.


Setelah turun dari kereta, si anak diserbu para calon ibu.


titik hilang


rel cahaya


Untuk menuju monas, kami memilih berjalan kaki dari stasiun. Fenomena unik pertama diperlihatkan foto bertajuk “hold my hand” diatas. Ayo tebak, siapa mereka?


Anak pinggiran


Gerobak vitamin


Taman kontemplasi


Reparasi


Si roda tiga


Gerbang monumen


Miniatur


Dalam lorong


Si monas


Plasa diorama


Observasi Pak haji


Dua sejoli ini batal mengantri dan menjual tiketnya kepada kami. Tentu kami menolak, karena kami pun sudah membeli di loket resmi. Ternyata antrian sangat panjang, kami batal manuju puncak. Sepertinya dua sejoli itu juga malas mengantri.




Sang penjaja




Bapak ini dengan menggebu-gebu memberi pemaparan tentang teks proklamasi yang terpampang di belakangnya. Aura optimisme saya rasakan dari gaya bahasanya. Dia terlihat menikmati pekerjaannya.


Sekembali dari monumen, kami menemukan pasangan muda ini. Saya teringat kedua orang tua sewaktu saya kecil. Mereka selalu mengajak saya dan adik bermain ke tempat wisata, meskipun saya yakin mereka tahu repotnya membawa anak kecil bermain dengan menaiki kendaraan umum. Ode untuk orangtuaku, untuk para orang tua yang rela berpeluh demi warna ceria masa kecil anaknya.


Masih ingat mereka berdua? Ada yang sudah tau siapa mereka? Betul sekali, mereka adalah adik Isty dan pacarnya. Lengket sekali mereka berdua.


Di bawah monas, kami berkeliling dengan kereta. Di perjalanan, ada sekelompok manusia berkostum aneh. Sepertinya mereka musisi yang menjaga aksen visual biar terkesan betawi.


Selepas berkeliling, saya memotret rumput yang menyeret saya ke masa lalu. Rumput jenis ini adalah jenis rumput yang biasa saya injak sewaktu kecil. Waktu itu lahan bermain saya adalah halaman kantor balai desa yang asri. Disana saya mengamati ulat pohon beringin, memetik kepompong dan memecahnya hingga si calon kupu-kupu batal sempurna, bermain bola hingga memecahkan kaca, bermain petak umpet, dll. Sekarang pohon beringin itu tak lagi rimbun, mereka menebangnya hingga cabang. Tawa anak seusia SD tak lagi terdengar, entah dimana kini mereka bermain.


Kedua ekspatriat ini sedang asyik membaca dibawah rindang pohon. Mari membaca!


Waktu dzuhur tiba, saatnya saya dan Agus menghadiri majelis Jumat. Di halaman masjid kebanggaan Indonesia itu terdapat air mancur yang tetesan airnya tertiup angin hingga luar masjid dan terasa menyegarkan.


Koridor istiqlal


Mirip kuil arthemis


Kiddy on mosque


Sujud dzuhur


Monas dari istiqlal


Dari istiqlal, kami beranjak menuju kota tua. Tapi sebelumnya, perut kami akan diisi di atrium. Untuk menuju kesana, kami menaiki busway. Hari itu seluruh petugas pintu bis memakai busana ala muslim/betawi. What a beautiful, I love Indonesia.


Siang itu bis penuh, kami tak mendapat kesempatan duduk. Ada ruang kosong di samping supir, saya pun menuju kesana. Ternyata supir bis kami adalah seorang wanita. Sepertinya tak relevan lagi jika urusan mengemudi mobil identik dengan kaum adam.


Kami pun berhenti di sebuah halte untuk transit. Dari halte itu, terlihat sebuah plang ajakan untuk menghadiri semacam acara dakwah.


Ternyata, tepat di seberang plang dakwah itu, terpampang “Rayuan Arwah Penasaran”, “Akibat Pergaulan Bebas”, “Ratu Kost” dan “Roman Picisan”. What a contrary!


Souvenir asongan


Di bis selanjutnya kami mendapat tempat duduk. Sudah baca novel Supernova: Akar? Masih ingat tokoh Body? Si budhis ahli tato itu kini tertidur di samping saya.haha


Setelah tiba di halte atrium, kami dikejutkan dengan hilangnya ponsel De Tika. Figur diatas menggambarkan suasana saat Isti melapor ke petugas halte.


Petugas itu bersedia membantu. Sementara menunggu kabar, kami makan di atrium senen. Rasa sesal dan haru tak bisa disembunyikan De Tika. Dengan penuh rasa sabar, kakaknya berusaha menenangkan. Nampaknya Isti sudah mampu menerapkan ilmu manajemen sumber daya keluarga yang ia pelajari di bangku kuliah. Alih-alih rasa haru yang berlarut, makan siang kami dihiasi hikmah.


Kota tua adalah tujuan kami selanjutnya. Sepertinya stasiun kota diatas adalah stasiun terindah di Indonesia.


Akurasi


Sidewalk


Jika ada pre-wedding (pra-nikah), adakah pra-kawin?










Skaters


Tiga dara bercengkrama


Rotten beauty


Kartu: mainan kami kini




The show


Romantika onthel


Sinden leseh




Waktu maghrib pun tiba, kami bergegas pulang.


Standing sleep




Seperti yang saya katakan di awal, perjalanan kereta kami dihiasi manisnya para juvenil. Gadis kecil itu kerap terlihat sedang memperhatikan kami yang riuh berbincang. Sesekali ia menirukan gerakan yang dilakukan Ila.




Akhirnya Ila menyapa anak itu. Ternyata dia komunikatif. Tak lama, mereka pun larut dalam keakraban.


Anak ini sedang melakukan eksplorasi tentang cara kerja pintu kereta. Beruntung orang tuanya mendampingi, tidak melarang.


Farewell




Keluarga ini adalah potret menarik tentang sikap keluarga yang menerima kekurangan anaknya. Seorang ibu duduk di samping saya, suaminya berdiri di sisi lain. Kedua anaknya menghambur, satu orang menuju ibu, sementara yang lain menggapai ayah. Anak yang memakai sepatu boots biru terlihat seperti anak berusia sekitar 4 tahun dengan tampilan fisik biasa namun penuh keingintahuan. Ia tak henti bertanya berbagai hal kepada ibunya. Namun sayang sang ibu melarang. Akhirnya sikap kritis anaknya mati dalam lelap tidur. Lain halnya dengan anak lain yang berbincang dengan ayahnya. Meski terlihat mengidap sebuah kelainan, anak itu bersikap tak jauh berbeda dengan saudaranya. Dia beruntung karena sang ayah dengan senang hati menjawab tiap butir keingintahuannya. Respon itulah yang seharusnya dilakukan tiap orang tua dalam menghadapi anaknya yang haus ilmu.


akhirnya kami tiba kembali di Bogor.

Labels: ,