Bangkit!

Dalam rangka hari sumpah pemuda, kali ini gw tulis pendapat gw yang sempet gw kirim ke sekretariat DPM TPM beberapa bulan lalu sebagai syarat mengikuti lomba opini mahasiswa pas hari kebangkitan nasional.

Waktu itu gw ga pesimis2 amat, tapi sayang kalah, mungkin gara2 di formulirnya gw isi "belum pernah mengikuti aksi mahasiswa turun ke jalan", jadi mereka ragu sama kepedulian gw ma situasi bangsa. Padahal kagak, maksud gw ga pernah ikut demo adalah bahwa gw ga mau waktu yang gw miliki dipake kegiatan yang ga butuh2 banget kehadiran gw. Kuliah jelas lebih penting, coz gw udah bayar uang SPP, kalo gw ga pake dengan sebaik2nya, sayang tu duit kebuang sia2. Ini demi sebuah amanat yang lebih penting. Dan kuliah itu juga salah satu bentuk kepedulian gw sama kondisi bangsa, lu setuju kan? Oke, langsung aj, ni tulisan gw waktu itu:

KOLOM OPINI

Nama : Rheza Ardiansyah

NRP/Jurusan/Fakultas : I24070020/IKK/FEMA

Kelas : A28

Setelah seratus tahun berlalu, ternyata tak banyak yang berubah. Kebangkitan yang selama ini dilakukan ternyata belum mencapai titik maksimum. Masih banyak rakyat miskin yang tetap sengsara, harga BBM naik, dan Indonesia tetap menyandang gelar “negara yang sedang berkembang”. Lalu apa yang salah? Mana yang harus diperbaiki agar negara kita bisa benar-benar bangkit?

Yang salah adalah sikap bangsa kita yang enggan berbagi, bahkan dengan saudara sendiri. Saat korban lumpur lapindo menangisi kampung halamannya, keluarga orang terkaya di Indonesia itu mengadakan acara pernikahan yang menghabiskan dana sebesar 2M rupiah (http://forum .detik.com/showthread.php?t=39215&page=5). Saat rakyatnya menanti bantuan dana pemerintah, seorang bupati di sebuah kabupaten di Jawa Barat terbukti melakukan korupsi (http://www.politikindonesia.com/ readhead.php?id=142&jenis=krp). Saat para penjual donat cilik berusaha menghidupi diri dan keluarganya, tak sedikit dari kita yang enggan membantu mereka, setidaknya dengan senyuman manis, apalagi menyisakan uang jajan kita untuk membeli kue mereka.

Saat dunia sibuk memanfaatkan waktu, tak sedikit pula kita membuang-buang waktu dan menyerah atas godaan kata ‘malas’. Benjamin Franklin menyatakan bahwa malas adalah pangkal kemiskinan. Leonardo Da Vinci juga berpendapat bahwa malas adalah pangkal kebodohan. Dalam sebuah novelnya, Habiburrahman El-Shirazy menceritakan sebuah ironi yang menggelitik,

“Jika bangsa kita masih dikategorikan bangsa yang ketinggalan dari bangsa lain, menurutku ya karena mayoritas kita adalah pemalas. Lihatlah para pelajar yang malas-malasan. Pegawai negeri yang bermalas-malasan. Aku pernah menjenguk seorang kerabat yang sakit di sebuah rumah sakit di kota S. pelayanannya sangat buruk. Para perawat acuh tak acuh. Ketika para pasien mengerang kesakitan, para perawat itu malah asyik nonton televisi. Jika kita bandingkana dengan Jepang misalnya, sangat jauh. Di Jepang tidak ada kursi di ruang perawat, apalagi televisi. Dan perawat di sana malu kalau terlihat menganggur.

”Kau tahu apa yang terjadi akibat malasnya perawat itu? Pasien lebih lambat sembuh. Padahal tidak sedikit pasien yang sangat diperlukan tenaga dan pikirannya untuk memajukan negara. Misalnya kerabatku itu, dia seorang dosen di sebuah perguruan tinggi di sana, di kota S. Seharusnya mungkin dia hanya dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Gara-gara perawatnya yang malas dan acuh tak acuh, dia harus dirawat selama lima hari. Jadi ada dua hari yang hilang sia-sia.

”Hari adalah kumpulan waktu. Dan waktu adalah modal paling berharga yang dimiliki umat manusia. Dua hari yang sia-sia itu jika diproduktifkan akan sangat besar andilnya dalam memajukan bangsa. Kita jangan melihat waktu yang sia-sia hanya dari satu orang saja. Kita bayangkan jika yang mengalami nasib seperti kerabatku itu jumlahnya dua juta orang dari total penduduk Indonesia. Jadi dua kali dua juta. Berarti ada empat juta hari yang terbuang sia-sia karena malas.

”Coba renungkan, empat juta hari itu jika dimanfaatkan secara optimal akan menghasilkan apa? Jadi tak terbayang betapa ruginya kita karena malas. Ini baru yang kita lihat di rumah sakit. Belum di pasar, belum di jalan raya, belum di lembaga pendidikan, belum di instansi-instansi pemerintahan yang lain.

”Tapi rajin dan giat saja tidak cukup. Ada yang lebih penting sebelum rajin dan giat, yaitu alasan kenapa harus rajin dan giat. Ada giat yang lebih banyak menimbulkan letih saja, namun ada juga giat yang menghasilkan hasil luar biasa. Banyak orang yang tidak bisa membedakan antara sibuk dan produktif. Mereka yang hanya sibuk tapi tidak produktif, dalam bahasa Caroline Donnelly adalah ibarat kincir angin berwujud manusia. Bekerja keras tapi sedikit hasilnya”.

Tak ada kata terlambat untuk terus memperbaiki diri dan bangkit. Kontribusi terbaik yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa adalah dengan mengubah dunia dari satu titik, merubah kebiasaan buruk bangsa mulai dengan merubah kebiasaan buruk diri sendiri. Jangan biarkan satu detikpun terbuang sia-sia. (rz)

Labels: