Ga Mau Hilang Ingatan!

Ajaibnya sang waktu, masa lalu yang menyakitkan lambat laun bisa menjelma menjadi nostlgia romantik yang tak ingin dilupakan. (Andrea Hirata, "Sang Pemimpi" halaman 36)
Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita adapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang melesat-lesat itu. Analogi eksperimen itu tak lain karena kecepatan cahaya yang sama dan absolut, dan waktu relatif tergantung kecepatan gerbong itu--itu pendapat Einstein--maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain. Banyak orang yang panjang pengalamannya tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendek menerangi sepanjang hidup. (Andrea Hirata, "Edensor" halaman 1)
Perangkap 90-10. Istilah itu gue dapet dari bukunya Dr. Richard Carlson PhD., "Don't Sweat The Small Stuff For Teens". Doi bilang, katanya dari 100% masa lalu yang telah kita lewati, ternyata kita (ceritanya masih remaja) lebih banyak mikirin 10% kenangan pahit masa lalu dan kurang mensyukuri 90% kenangan manisnya.
Kunci ingatan adalah synapse, titik dimana syaraf saling terhubung. "Terhubung" mungkin bukan istilah yang tepat karena sebenarnya mereka tidak saling tehubung; ada celah kecil antar ujung-ujung saraf; itulah yang disebut synapse. Ketika sebuah sinyal mencapai ujung saraf, molekul pengirim melompati celah antar saraf lalu ditangkap oleh saraf di depannya dan diteruskan ke saraf berikutny. Karena saraf tidak benar-benar terhubung, maka koneksi yang terjalin bersifat lentur. Inilah kunci kerumitan pengalaman manusia. Jika saraf-saraf saling tehubung seperti kawat dalam rangkaian elektronik, terikat atau dipatri, maka tidak akan ada perubahan sifat dari kelahiran sampai kematian. Semua manusia akan bertingkah laku sama seumur hidup mereka. Meski Anda mungkin menganggap tujuan hidup manusia adalah mempertahankan kesamaan sifat, sebenarnya tidak demikian. Keterpisahan kecil itu membuat saraf penerima bisa berubah kedudukan, mandekati atau menjauhi saraf penerima yang lain. Bahkan saraf penerima itu bisa menolak molekul pesan. Tapi saraf pengirim juga bisa bertingkah nakal. Saraf pengirim bisa menembakkan molekul pesan langsung ke saraf penerima atau bersantai-santai dulu sebelum menembak. (Richard Robinson, "Murphy's Law" halaman 60)
By the way, setelah banyak sinyal masa lalu lewat ke synapse kita, mo digimanain tuh, formasi sinapse-nya? Ya, kadang pikiran kita diserang sindrom trauma masa lalu. Padahal kan harusnya kita ga gitu, kita kudu fokus ke depan, jangan kebanyakan liat kaca spion, ntar nabrak. Gunanya kaca spion kan biar kita yakin ga ada yang mungkin nabrak kita dari belakang, biar jalan maju kita lancar. Pun begitu dengan masa lalu, Allah ngasih kita ingetan masa lalu biar kesalahan di sana ga nabrak kita lagi. Dr. Aidh Al-Qarni di bukunya "Laa Tahzan" bilang gini, "jika Anda dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa Anda harus bersedih atas air asin yang Anda minum kemarin, atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi?" Sohib, cubs ente liat QS Al-Balad [90] ayat 4, "sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah". Ho'oh, manusia emang hidup bersusah payah. Liat lagi QS Al-Mulk [67] ayat 1 & 2, "Maha Suci Allah yang ditangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun". Betul, mati itu ujian, hidup itu ujian. Hidup ini--kata Ahmad, sang raja penyair Arab--adalah keyakinan dan perjuangan. Dan perjuangan seorang muslim sejati--kata Imam Ahmad Bin Hambal--tidak akan berhenti kecuali ketika kedua telapak kaki telah menginjak pintu surga. Is that clear? Udah saatnya kita bangun kawan, perjalanan masih panjang. Masa lalu itu salahsatu anugerah terindah dari-Nya, syukurilah! Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang kau hadapi, karena selam itu kita tumbuh dewasa.
Setiap peristiwa di dunia ini adalah potongan-potongan mozaik. Terserak di sana-sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang. Namun perlahania akan bersatu membentuk sosok seperti montase antoni Gaudi. Mozaik itu akan membangun siapa dirimu nanti. Lalu apapun yang kau lakukan dalam hidup ini, akan bergema dalam keabadian. (Andrea Hirata, "Sang Pemimpi")

Labels: